Friday, April 17, 2009

KERJA IKHLAS = KERJA BODOH ?

Dikutip dari sebuah milis.

Di jaman yang hampir semua hal diukur dengan materi, kerja ikhlas menjadi
hal yang langka. Pelakunya pun kerap disebut orang aneh, orang antik atau
orang yang melakukan hal bodoh. Kebanyakan orang di jaman ini memang bekerja
dengan "tulus" tetapi tidak ikhlas!

"Lho, apa bedanya Pak?", tanya para mahasiswa yang mengikuti kuliah atau
seminar saya. Saya sering menjawab,"Tulus adalah singkatan dari TUjuannya
fuLUS". Jadi bekerja karena motivasinya adalah untuk mendapatkan uang. Jika
mendapatkan uang banyak maka bekerja keras dengan sangat baik, tetapi jika
mendapat uangnya sedikit maka kerjanya asal saja. Hal inilah yang dilakukan
oleh kebanyakan orang. Bekerja untuk memperoleh imbalan yang setimpal dengan
pekerjaan menurut ukurannya masing-masing.

Tetapi jika bekerja dengan hati ikhlas, berarti bekerja dengan berdasarkan
kasih dan kerelaan hati. Seperti matahari pagi yang selalu rajin tidak
pernah terlambat selalu bersinar dan tidak pernah mengharapkan imbalan atau
balasan kembali. Matahari juga tidak peduli apakah manusia mau menerima
sinarnya atau bahkan menolaknya.

Sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh seorang teman saya terjadi di
Bandung beberapa waktu yang lalu. Kisah nyata ini dapat dijadikan suatu
bahan renungan tentang keihklasan hati dalam bekerja.

Seorang mahasiswa yang baru lulus menjadi sarjana kedokteran di sebuah
perguruan tinggi negeri terkenal di Bandung memilih untuk bekerja menjadi
asisten laboratorium di almamaternya. Penghasilan yang diterimanya sebagai
asisten lab sangatlah kecil, bahkan tidak mencukupi walau pun hanya untuk
membayar biaya transportasi ke kampusnya. Tetapi dia mencintai pekerjaan
menjadi asisten dan melakukannya dengan ikhlas karena memang mencintai
pekerjaan mengajar.

Banyak orang yang mengatakan bahwa dia bodoh karena memilih bekerja menjadi
asisten lab. Padahal sebagai sarjana kedokteran dari universitas negeri
terkenal, dia memiliki peluang besar untuk bekerja di perusahaan swasta yang
memberikan penghasilan berpuluh-puluh kali lebih besar.

Walau orang tuanya pun mendesaknya untuk mencari pekerjaan lain, dia tetap
memilih membantu almamaternya menjadi asisten lab. Semua hal itu dilakukan
dengan hati yang ikhlas. "Pekerjaan ini membahagiakan hati saya", katanya.

Suatu saat datanglah seorang profesor dari Jepang berkunjung ke universitas
tersebut. Karena semua dosen sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing,
maka ditugaskanlah asisten lab tersebut untuk menemani dan membantu sang
profesor selama berada di Bandung.

Asisten tersebut bisa saja menolaknya karena hal itu bukanlah tugasnya
sebagai asisten lab. Dia tidak dibayar untuk hal itu. Tetapi dia memilih
untuk tetap menerima tugas itu dengan hati yang ikhlas dan berusaha membantu
sebisanya tanpa mengeluh.

Walau pun sama sekali tidak bisa berbahasa Jepang, dia berusaha sebaik
mungkin membantu sang profesor. Mengantarnya mencari makanan untuk makan
siang dan makan malam, berbelanja oleh-oleh Bandung, berkunjung ke Gunung
Tangkuban Perahu, dan tempat-tempat wisata lainnya. Dia selalu mengantar ke
mana pun sang profesor ingin pergi dengan tersenyum.

Setiap hari dia menjemput sang profesor dan mengantarkannya kembali ke hotel
tempat sang profesor menginap. Sampai saatnya profesor itu kembali ke
Jepang, sang profesor memberikan jam tangannya kepada asisten lab tersebut
sebagai tanda terima kasih. Hati sang Profesor sangat tersentuh dengan
keramahan dan keikhlasan hati asisten lab yang telah membantunya selama
berada di Bandung.

Beberapa tahun kemudian, sang profesor telah terlupakan dalam ingatan
asisten lab tersebut. Dan dia masih bekerja masih bekerja ikhlas sebagai
asisten di universitas tersebut. Hingga datanglah sebuah kesempatan beasiswa
belajar kedokteran sampai jenjang S-3 dari sebuah universitas di Jepang bagi
akademisi di universitas negeri di Bandung tersebut.

Dosen-dosen yang lebih senior segera mengirimkan aplikasi permohonan
beasiswa ke universitas di Jepang tersebut. Tetapi ternyata oleh universitas
di Jepang yang memberi beasiswa tersebut semuanya ditolak!

Ternyata sang Profesor di universitas Jepang itu yang menolaknya. "Saya
hanya mau menerima dan merekomendasikan anak muda yang dulu pernah
antar-antar saya selama saya di Bandung!", katanya dengan tegas.

Akhirnya sang asisten lah yang mendapatkan kesempatan untuk meneruskan
kuliah dengan beasiswa di Jepang. Dia melampaui dosen-dosennya yang lebih
senior untuk mendapat kesempatan kuliah lebih tinggi. Kabar terakhir yang
saya terima, saat ini dia masih sedang menyelesaikan kuliah S-3
kedokterannya di Jepang.

Dari kisah nyata itu saya berkesimpulan bahwa kerja ikhlas bukanlah kerja
bodoh, melainkan kerja yang sangat pintar!

Walau pun dengan bekerja ikhlas kita tidak dipedulikan atasan kita, orang
disekitar kita, atau tidak dipedulikan orang lain... tetaplah bekerja dengan
x-tra kerja ikhlas! Faktor X ke tiga dalam fondasi kesuksesan seseorang. 

Ingatlah! Bahwa walau pun semua orang di dunia tidak peduli dan menutup mata
terhadap apa pun keikhlasan yang kita perbuat, tetapi Tuhan akan selalu
peduli dan tidak akan menutup mata Nya kepada keikhlasan hati kita.

Di saat yang TEPAT Dia akan memanggil malaikat Nya, "Kat, Kat,
malaikat...kasih BERKAT untuk orang yang ikhlas itu".

Salam Ikhlas dimanapun anda berada...